Pembentukan Paguyuban TB

Desa Gunungsari merupakan salah satu desa di Kecamatan Maesan yang memiliki angka kejadian penyakit tuberkulosis (TB) yang cukup tinggi. Salah satu penyebab tingginya angka kejadian TB yakni rendahnya tingkat  pengetahuan warga tentang TB. Sehingga perlu dibentuk suatu wadah untuk memantau dan memberikan edukasi kepada penderita TB yang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan warga tentang bahaya penyakit TB.

Pembentukan paguyuban TB ini dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2018 di kediaman ibu Ika selaku pembentuk program paguyuban TB yang dihadiri oleh kelompok mahasiswa KKN 81 UNEJ, para perawat dari Puskesmas Maesan, Kader TB, Pengawas Minum Obat (PMO). Anggota paguyuban TB terdiri dari kader TB dan PMO yang diharapkan kedepannya mereka dapat menemukan warga yang dicurigai memiliki gejala penyakit TB sehingga dapat dilakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang ada nantinya dapat disimpulkan warga tersebut positif terjangkit TB atau tidak sehingga dapat segera memperoleh terapi yang tepat untuk mencapai kesembuhan dan mengurangi resiko penularan ke warga lain.

Acara pembentukan paguyuban TB diawali dengan sambutan dari tuan rumah dan dokter Vallen lalu dilanjutkan pemaparan data pasien TB seluruh desa di kecamatan Maesan sepanjang tahun 2017-2018 dimana di Desa Gunungsari terdapat pasien TB sebanyak 18 orang. Setelah pemaparan data, mahasiswa KKN memberikan pre-test kepada para kader dan PMO untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan mereka terkait TB. Setelah pre-test, mahasiswa KKN memberikan penyuluhan tentang TB yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mereka terkait TB. Selama penyuluhan para kader dan PMO cukup antusias mendengarkan materi yang dipaparkan. Setelah penyuluhan, para kader dan PMO menerima post-test yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan pengetahuan tentang TB setelah diberikan penyuluhan.

Berdasarkan hasil pre-test, dapat dikatakan bahwa para kader dan pmo sudah memiliki pengetahuan yang baik terkait TB begitu juga dengan hasil post-test. Sehingga dapat dikatakan bahwa setelah  penyuluhan pengetahuan para kader dan pmo menunjukkan peningkatan. Setelah penyuluhan materi dilakukan senam penguin bersama untuk menghilangkan kejenuhan. Setelah senam, petugas kesehatan dari puskesmas memberikan penyuluhan terkait TB-HIV sebab biasanya para penderita TB rentan terjangkit HIV, begitu juga sebaliknya. Di akhir acara, dilaksanakan sesi tanya jawab berhadiah, makan-makan, dan foto bersama.

Tinggalkan Balasan